My Friends

Related Site



بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ





Terkadang kita ragu dalam mengambil tindakan untuk berbuat baik, berpikir dua kali sebelum memberikan bantuan kepada yang membutuhkan. Namun tidak jarang kita tertahan untuk berbuat baik dikarenakan keraguan yang menetap di hati kita, prasangka negatif yang berlebihan, dan pada akhirnya tersadar dalam penyesalan dikarenakan berlalunya kesempatan emas tersebut atau bahkan direbut oleh oranglain. Hal ini pernah terjadi pada penulis, jika dipikir kembali momen emas tersebut, terasa penyesalan yang begitu besar. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran yang berharga bagi penulis, dimana selayaknya ketika adanya betikan hati ingin berbuat baik maka dengarkan dan segera lakukan, sehingga berbuat baik itu memiliki slogan yang unik,
“NEVER SAY NEVER”
[ JANGAN KATAKAN TIDAK ]

Kalimat diatas cukup menginspirasi penulis, kalimat yang mengandung makna antara lain sebagai penolakan terhadap keraguan hati, menggambarkan keteguhan hati, keberanian, dan kesungguhan dari pelaku yang mengucapkannya. Tentunya penulis memaknainya dalam hal Amal Ma’ruf Nahi Munkar (Berbuat Baik dan Mencegah Kemunkaran).

Keragu-raguan memang sering menyusahkan kita dalam mengambil keputusan terutama dalam urusan yang penting dan genting. Dalam konteks amal ma’ruf nahi munkar maka sifat keragu-raguan merupakan hal yang semestinya dapat segera dihilangkan seketika, karena boleh jadi kesempatan berbuat baik tersebut hanya datang sekali seumur hidup kita. Segera ambil kesempatan tersebut sebelum amalan itu direbut oranglain ataupun terlewatkan sia-sia. Memang untuk dapat responsif terhadap amalan yang bernilai “berlian” dibutuhkan kebersihan hati, sehingga getaran/sinyal kebaikan dapat dengan cepat menjalar dan menggerakkan sendi-sendi tubuh tuk bergerak menyambutnya. Sedikit memberikan contoh tentang sikap responsif yang saya maksud sebagaimana cerita dari hadits dibawah ini:

Dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhu ia berkata, Nabi shalallahu‘alaihi wa sallam bersabda,

Macam-macam umat diperlibatkan kehadapku; aku melihat seorang Nabi beserta sekelompok orang pengikutnya,  aku melihat seorang Nabi beserta seorang laki-laki pengikutnya, aku melihat seorang Nabi tanpa ditemani seorang pengiku pun, kemudian diperlihatkan kepadaku sekelompok orang dengan jumlah yang amat banyak, maka aku berakta, ‘Ini adalah umatku.’ Kemudian dikatakan, ‘Ini adalah Musa dan umatnya. Tapi, lihatlah ke atas.’ Seketika terlihat sekelompok umat dengan jumlah yang amat banyak. Kemudian dikatakan, ‘Lihatlah ke arah yang lain.’ Seketika terlihat sekelompok umat dengan jumlah yang amat banyak. Kemudian dikatakan, ‘Ini adalah umatmu.’ Bersama mereka 70.000 orang masuk ke dalam surga tanpa melalui prosesi hisab dan siksa.” Kemudian Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berdiri, lalu masuk, lalu para shahabat berbicara panjang lebar tentang sabda Nabi tadi. Kemudian mereka berkata, ‘Siapakah mereka yang masuk surga tanpa melalui prosesi hisab dan siksa?’ Sebagian mereka berkata, ‘Barangkali mereka yang menyertai Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.’ Sebagian yang lain berkata, ‘Barangkali mereka yang dilahirkan dalam keadaan Islam, dia tidak pernah menyekutukan Allah.’ Mereka menyebutkan banyak hal. Kemudian Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam keluar kembali (dari kamar beliau) menemui mereka, lalu beliau berkata, ‘Apa yang kalian perbincangkan?’ Mereka pun memberitahukan kepada beliau tentang apa yang mereka perbincangkan antarmereka. Lalu beliau bersabda, ‘Mereka adalah orang-orang yang tidak berobat dengan menggunakan kayy, tidak minta diruqyah (ruqyah yang tidak syar’i), tidak bertathayyur (pesimis karena melihat pertanda buruk), dan hanya kepada Allah mereka bertawakkal.’ Kemudian ‘Ukkasyah bin Mihshan Al-Asadi berdiri seraya berkata, ‘Apakah saya termasuk bagian dari mereka, wahai Rasulullah?’ Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. ‘Kamu adalah termasuk bagian dari mereka!’ Lalu sebagian shahabat yang lain (Sa’ad bin ‘Ubadah) berkata, ‘Apakah saya bagian dari mereka, wahai Rasulullah?’ Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Kamu telah didahului oleh Ukkasyah’.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Saudaraku, lihatlah bagaimana dialog ‘Ukkasyah dan Rosulullah serta sahabat lainnya, ‘Ukkasyah dapat menangkap/mellihat momentum “emas” yang tidak semua sahabat menyadarinya secepat ‘Ukkasyah. Begitupun dengan amal ikhwatifillah, kesempatan “emas” datang di saat yang tidak terduga bahkan disaat genting, namun dengan kebersihan hati dapat menyingkap tabir keraguan yang menutupi mata hati untuk bersikap responsif terhadap amal ma’ruf nahi munkar.

Ketika seseorang mengatakan I never say never, maka secara mutlak bahwa orang tersebut telah memiliki ketetapan hati, keberanian untuk membuktikannya dengan perbuatan dalam bentuk sikap spontanitas. Jika sebelumnya kita dapat mengkondisikan hati kita untuk bersiap-siap menyambut setiap amalan dengan sigap maka bukan tidak mungkin tingkat responsifitas kita dapat melampaui orang-orang yang ada disekitar kita. Namun jika hati kita lalai maka bukan tidak mungkin kesempatan itu hanya berlalu bak diterpa angin.

Singkat kata, apapun yang hati rasakan akan mempengaruhi segala tindakan kita terutama dalam hal ber-amal ma’ruf nahi munkar. Tak hayal bahwa Rosulullah Shalallahu’alaihi wa sallam dalam haditsnya mengatakan bahwa “didalam tubuh manusia terdapat sebuah daging, apabila ia baik maka akan baik seluruh jasadnya, apabila dia buruk maka akan buruk seluruh jasadnya” yang dapat dipahami secara jasadiyah maupun ruhiyahnya.
  

-Hadanallahu waiyyakum ajma’in, wallahu a’lam bi showab.-

Depok, 17 Rabi'ul Awal 1433 H.
-Moejaheedean Al Qassam-

Post a Comment